Search for
Login | Username Password Forgot? | Email: | Create Account
Non English | Popularity: 1 | Entries: 479 | Modified: 4h 4m ago | | Add to My Feeds

Kepulan asap membumbung di pulau Yeonpyeong setelah serangan Korea Utara (Korut) di pulau perbatasan kedua negara milik Korea Selatan (Korsel) itu.

Setelah serangan Korut di pulau Yeonyeong, pihak Korsel mengumumkan ancaman bahwa mereka akan meluncurkan serangan besar jika Korut menyerang mereka lagi.

Seperti diketahui pasukan Korea Utara membombardir Yeonpyeong, sebuah pulau diperairan yang dipersengketan kedua negara itu, dengan puluhan roket dan menewaskan dua orang marinir Korsel juga melukai 20 orang lainnya.

Serangan ini telah mencederai perjanjian gencatan senjata (Armistice) yang mengakhiri perang saudara Korsel-Korut tahun 1953 lalu.

Serangan Korut Ke Korsel Kepulan Asap Yeonpyeong

Kepulan Asap Pulau Yeonpyeong Korsel

Presiden Korsel, Lee Myung-bak, mengadakan rapat darurat setelah serangan tersebut, dan mengatakan “Serangan membabi-buta terhadap warga sipil” tidak dapat di tolerir.

“Enormous retaliation should be made, to the extent that [North Korea] cannot make provocations again,” he said.
Artinya:
“Pembalasan besar harus dilancarkan pada tahapan dimana (Korut) tidak berani melakukan provokasi lagi dikemudian hari”, katanya

Serangan Korut di Yeonpyeong pukul 14.34 waktu setempat, merupakan satu dari sekian serangan serius dalam beberapa dekade setelah perang, menewaskan warga sipil, meskipun serangan udara sebelumnya di wilayah perbatasan perairan yang dipersengketa itu menelan korban lebih banyak lagi.

Dalam sebuah pernyataan singkat yang dirilis agen berita resmi KCNA, Korut mengatakan bahwa Korsel lah yang memulai serangan – yang dimaksud ialah latihan perang tahunan Korsel diwilayah perbatasan itu – Korut menuduh Korsel menembakan peluru kewilayah mereka – namun Korsel membantah tuduhan itu.

Sedangkan Amerika Serikat, yang mempunyai sekitar 28.000 pasukan di Korea Selatan meskipun sangat mengutuk serangan itu, namun menganggap terlalu dini untuk mendsikusikan perang dengan negara Komunis itu.

Secara teknis, sebenarnya kedua negara Korea itu masih dalam situasi perang – perang Korea berakhir karena gencatan senjata – bukan perjanjian damai, karenanya ketegangan begitu mudah terjadi contohnya saat Seoul menuduh Pyongyang meluncurkan torpedo ke kapal mereka, menewaskan 46 orang pelaut pada awal tahun 2010 ini.



More from Blog Berita Indonesia


^ Back To Top