Pabrik ikan patin yang dikelola Dinas Industri dan Perdagangan Kabupaten Musi Banyuasin di Jalan Selarai, Kelurahan Balai Agung Sekayu, mati suri. Dinas mengaku kesulitan mencari investor yang serius untuk melaksanakan operasional pabrik guna menghasilkan pendapatan bagi daerah. Pantauan kemarin menunjukkan, pabrik yang dibangun di atas lahan seluas 200 m2 ini hanya dihuni satu pegawai yang bertugas menjaga peralatan pabrik, seperti oven, kulkas pendingin ikan, kompor. Ikan-ikan patin ini tampaknya sudah lama berada di dalam mesin pendingin.
Ikan-ikan itu kelihatan keras dan memutih.Kulkas lainnya mendinginkan bahan jadi yang terkemas di dalam kantong plastik,seperti nugget, sosis, baso, serta bahan baku lainnya, seperti bawang putih dan sagu. Menurut Hadi, 20, penjaga gedung, bahan baku dari ikan ini sudah lebih satu tahun tersimpan di kulkas. Begitu juga dengan bahan jadi lainnya. Pekerja yang biasa mengerjakan bahan baku ikan akan bekerja jika ada panggilan untuk bekerja. Hadi mengaku mendapatkan honor jaga setiap tiga bulan sekali, di samping membantu pekerja lain bila bahan baku datang.
”Kerjanya tidak tetap, bisa dipanggil kembali, tapi sudah setahun lebih pabrik ini tidak jalan,”ungkap Hadi. Sementara itu, Kepala Dinas Industri dan Perdagangan Muba Ihwan Muslimin kemarin menjelaskan, pabrik yang dibangun pada 2004 itu tidak terbengkalai dan sudah ada tiga investor yang mengajukan diri untuk mengelolanya.
Menurut Ihwan, investor ini masih dalam kajian, sedangkan memorandum of understading (MOU) sedang disusun sehingga masih terbuka kesempatan kepada investor lain untuk mengajukan draf pengelolaan pabrik ikan patin pertama yang dibangun Pemkab Muba ini. Ihwan berharap, dengan beroperasinya pabrik pengolahan ikan patin ini, dapat menambah pendapatan asli daerah, di samping adanya tenaga yang ahli yang kemampuannya dapat diandalkan. Demikian catatan online Kualatungkalboy tentang Dinas Industri dan Perdagangan.
Ikan-ikan itu kelihatan keras dan memutih.Kulkas lainnya mendinginkan bahan jadi yang terkemas di dalam kantong plastik,seperti nugget, sosis, baso, serta bahan baku lainnya, seperti bawang putih dan sagu. Menurut Hadi, 20, penjaga gedung, bahan baku dari ikan ini sudah lebih satu tahun tersimpan di kulkas. Begitu juga dengan bahan jadi lainnya. Pekerja yang biasa mengerjakan bahan baku ikan akan bekerja jika ada panggilan untuk bekerja. Hadi mengaku mendapatkan honor jaga setiap tiga bulan sekali, di samping membantu pekerja lain bila bahan baku datang.
”Kerjanya tidak tetap, bisa dipanggil kembali, tapi sudah setahun lebih pabrik ini tidak jalan,”ungkap Hadi. Sementara itu, Kepala Dinas Industri dan Perdagangan Muba Ihwan Muslimin kemarin menjelaskan, pabrik yang dibangun pada 2004 itu tidak terbengkalai dan sudah ada tiga investor yang mengajukan diri untuk mengelolanya.
Menurut Ihwan, investor ini masih dalam kajian, sedangkan memorandum of understading (MOU) sedang disusun sehingga masih terbuka kesempatan kepada investor lain untuk mengajukan draf pengelolaan pabrik ikan patin pertama yang dibangun Pemkab Muba ini. Ihwan berharap, dengan beroperasinya pabrik pengolahan ikan patin ini, dapat menambah pendapatan asli daerah, di samping adanya tenaga yang ahli yang kemampuannya dapat diandalkan. Demikian catatan online Kualatungkalboy tentang Dinas Industri dan Perdagangan.
